SRI Masa Depan Pertanian Indonesia

padi, sri, ujungaspal

Demo Plot SRI: Sharing ilmu di Penas XIII Tenggarong bermanfaat jika tindak lanjutnya terpadu dan terencana.

Swasembada beras sudah menjadi bahasan sejak jaman orde baru. Setelah diklaim pernah mencapainya beberapa waktu, sekarang pemerintah sedang mewacanakan lagi untuk mengejar swa sembada.

Di booth Direktorat Prasarana dan Sarana Pertanian, dikenalkan SRI (System of Rice Intensification) yang merupakan program budidaya padi hemat air. Air dalam budidaya padi selama ini dianggap oleh petani harus dalam jumlah yang melimpah. Dengan kata lain sawah selalu identik dengan genangan. Dalam paradigma SRI yang diadopsi dari sistem pertanian di Madagaskar yang lahannya cenderung kering, penanaman padi tidaklah harus menggunakan terlalu banyak air.

Adalah Departemen Pekerjaan Umum yang pada awalnya menggagas hal ini untuk meningkatkan layanan irigasi kepada lebih banyak lahan. Pada perkembangannya budidaya padi cara SRI yang di Jawa dimaknai ‘Sistem Rada Irit’ (Jw: Sistem Agak Hemat) digabung dengan moda bertani organik, melahirkan SRI Organik yang memiliki masa depan cerah bagi kembalinya pertanian yang ramah lingkungan, mengembalikan kesuburan tanah, dan menghasilkan beras yang sehat sekaligus enak.

Cara bertani yang baik, menurut Affandi ahli system SRI yang ditemui Ujungaspal.com di arena PENAS XIII Tenggarong, seharusnya ‘memberi makan’ tanah. Penggunaan pupuk buatan dan zat kimia lainnya telah membuat kualitas tanah pertanian menurun dan memicu matinya musuh alami hama tanaman yang akhirnya memunculkan permasalahan yang pelik mengenai hama dan penyakit tanaman.

Tanaman padi yang terkena Tungro misalnya dikatakan Pak Fandi karena virus yang dibawa oleh Wereng Hijau. Virusnya sendiri belum ada obatnya, namun dengan mengendalikan serangga pembawanya dengan melakukan penanaman serentak minimal dua kecamatan maka carrier virus ini akan hilang, sehingga penyakit ini bisa dieliminasi.

Sistem Organik Mendukung SRI

Cairan penyubur dari buah maja, bonggol pisang, rebung bambu dan jantung pisang.

Penggunaan air yang hemat sangat mendukung pengelolaan lingkungan, dan pemanfaatan bahan organik sebagai penyuburnya merupakan paduan bertani yang luar biasa.

Bahan-bahan seperti bonggol dan jantung pisang, buah maja atau rebung bambu ternyata memiliki kandungan nutrisi bagi tanah yang sangat tinggi. Bahan-bahan tersebut menjadi agen pembentuk kompos seperti M4 yang selama ini dikenal, atau secara mandiri cairan dari hancuran bahan tersebut dapat menjadi nutrisi yang sangat baik bagi tanaman.

Dengan cara bertani yang bijaksana, memanfaatkan air dengan baik dan tekun memanfaatkan pupuk organik, masa depan pertanian Indonesia sangat menjanjikan. Selama ketergantungan pada pupuk buatan dan bahan kimia mencapai 100 persen, makan yang terjadi adalah pemiskinan petani selamanya. Dengan SRI dan organik, petani akan semakin berdaya. Ketergantungan akan pupuk buatan akan terkurangi. Apalagi beras dan sayur organic merupakan komoditi premium dengan harga yang tinggi.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>